Inspirasi bisa datang dari mana saja. Termasuk adik sendiri. Dari kondisi cacat mental sang adik, Carolus Carlo membuat film dokumenter untuk mendidik masyarakat. Ide tersebut muncul saat Carlo harus menyusun tugas akhir sebagai syarat kelulusan dari Jurusan Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Petra. Ide untuk membuat film terbesit karena sepanjang kuliah, Carlo terlalu sering mengerjakan desain iklan. Dengan berbekal semangat tanpa pengalaman, Carlo pun membuat film pendek berdurasi 15 menit berjudul “Kakakku Nico”. Film ini berdasarkan kisah nyata tentang perjuangan anak cacat mental. Yang menarik, anak cacat mental itu tak lain adiknya sendiri yang bernama Nicolas Nico. Bahkan Carlo menjadikan Nico sebagai salah satu bintang dalam filmnya. Keinginan membuat film tentang orang cacat mental muncul di benak Caelo setelah melihat kejadian tidak mengenakkan di sekolah adiknya. Tujuannya, selain untuk tugas akhir juga untuk mengedukasi masyarakat agar tidak menjauhi orang-orang cacat mental dan menghargai perjuangannya. Meski tidak seluruh karakter dalam film seusai kenyataan, Carlo ingin menekankan kegigihan Nico untuk bisa hidup layaknya orang normal. Carlo butuh waktu empat bulan untuk merampungkan filmnya. Tapi untuk syuting, Carlo menyelesaikannya dalam tiga hari dengan setting di SD Carlous dan rumahnya sendiri. Untuk biaya, Carlo mengaku hanya menghabiskan dana kurang dari Rp 2 Juta. Itu pun lebih banyak untuk keperluan konsumsi kru dan pemain. Sementara untuk peralatan, Carlo mendapat pinjaman dari salah satu wedding organizer di Surabaya.