Anak penyandang sindrom down, membutuhkan ruang terapi yang kompleks.Margaretha Lukmanto kerap menjumpai pengidap sindrom down di lingkungannya. Hal inilah yang mendorong mahasiswi jurusan arsitektur 2001 Universitas Kristen Petra itu mendesain serangkaian ruang terapi, baik indoor maupun outdoor. Ide tersebut dituangkan dalam tugas akhir berjudul Dimanakah Tempat Tumbuh Kembang bagi Anak Down Syndrome (Mongoloid)? Dalam rancangannya, Margaretha menerapkan konsep stimulation (rangsangan) tiga jenis. Yakni, fisik, mekanik dan kimia. Desain yang bila diwujudkan akan menghabiskan lahan sekitar 1,9 ha itu, diharapkan akan membantu proses penyembuhan penyandang sindrom down.