Penjadwalan proyek merupakan aspek krusial dalam manajemen konstruksi untuk memastikan proyek berjalan sesuai waktu dan anggaran. Critical Path Method (CPM) telah banyak digunakan dalam menyusun jadwal proyek, tetapi metode ini belum mempertimbangkan ketidakpastian serta keterbatasan sumber daya. Critical Chain Project Management (CCPM) hadir sebagai alternatif pendekatan yang lebih adaptif dengan memperhitungkan keterbatasan sumber daya dan ketidakpastian durasi pekerjaan melalui penggunaan buffer. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil penjadwalan proyek menggunakan metode CCPM dengan berbagai variasi metode buffer sizing, yaitu Cut and Paste Method (C&PM), Root Square Error Method (RSEM), Adaptive Procedure with Density (APD), dan Network Decomposition (ND). Studi kasus yang digunakan adalah proyek pembangunan gedung perkantoran 5 lantai di daerah Surabaya Timur, dengan penentuan durasi aktivitas pekerjaan menggunakan Program Evaluation and Review Technique (PERT) dan penjadwalan dilakukan secara as soon as possible. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap metode buffer sizing menghasilkan nilai buffer dan durasi total proyek yang berbeda. Secara teoritis metode Network Decomposition memberikan nilai project buffer terkecil, yaitu 54 hari, sehingga durasi total proyek menjadi 282 hari. Metode Network Decomposition menghasilkan buffer yang lebih efisien dan proporsional terhadap kompleksitas jaringan proyek dibandingkan metode lainnya. Hasil ini dapat menjadi acuan dalam pemilihan metode buffer sizing yang optimal bagi perusahaan konstruksi dalam menghadapi ketidakpastian proyek.