Emak-emak itu unjuk diri. Memenuhi linimasa media sosial. Dengan gaya gaul ala mereka, para emak itu menanggapi hal-hal yang berkaitan dengan politik. Tentang tempe setipis ATM, tentang uang 100 ribu rupiah yang katanya hanya bisa untuk belanja bawang dan cabai, hingga komentar tentang kepemimpinan presiden saat ini. Dalam kacamata komunikasi, fenomena tampilnya emak-emak itu memang menyiratkan pesan tertentu. Mereka ingin menunjukkan diri dan terlibat secara nyata, bukan sebagai penggembira, khususnya terkait topik politik yang masih menjadi ranah dominan kaum adam. Partisipasi politik kaum perempuan secara kuantitas, kemunculan perempuan sebagai aktor politik dalam tahun-tahun belakangan ini perlu diapresiasi. Jumlah aktor politik berjenis kelamin perempuan terus menunjukkan pertumbuhan yang positif.