ABSTRAK Inefisiensi penggunaan besi tulangan pada proyek konstruksi akibat metode pemotongan konvensional dan sambungan lewatan (lap splices) menyebabkan tingginya sisa material (waste) dan emisi karbon. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas metode Cut to Length (CTL) yang dikombinasikan dengan Mechanical Coupler melalui simulasi komparatif pada tiga studi kasus (Tower 8, Tower 10, dan Gedung Parkir) di Surabaya. Hasil menunjukkan bahwa metode konvensional menghasilkan waste hingga 27,24%. Penggunaan CTL dengan lap splice terbukti paling layak secara komersial dengan biaya terendah dan durasi tercepat. Sementara itu, penggunaan CTL dengan Mechanical Couplermemberikan performa teknis dan lingkungan terbaik dengan menekan waste di bawah 3% dan menghasilkan emisi karbon terendah, meskipun dengan biaya investasi komponen yang lebih tinggi. Kata Kunci: Cut to Length, Mechanical Coupler, Waste Besi, Efisiensi Biaya, Emisi Karbon. 1. PENDAHULUAN Beton bertulang merupakan material struktural utama dalam industri konstruksi. Namun, penggunaan besi tulangan menghadapi tantangan besar terkait limbah pemotongan yang dapat mencapai 5–8%, jauh melampaui estimasi perencanaan. Inefisiensi ini berakar pada dua hal utama: penggunaan sambungan lewatan (lap splices) yang menciptakan konsumsi material redundan dan proses fabrikasi lapangan yang menghasilkan sisa potongan (cutting waste). Teknologi Mechanical Coupler muncul sebagai solusi untuk menghubungkan batang besi tanpa overlap, yang berpotensi menekan limbah dan emisi karbon. Selain itu, sistem Cut to Length (CTL) — besi yang dipotong sesuai ukuran kebutuhan sejak dari pabrik—dapat meminimalkan pemotongan di lapangan. Penelitian ini mengeksplorasi kombinasi kedua metode tersebut untuk meningkatkan efisiensi teknis, ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan pada berbagai tipologi gedung. 2. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan metode simulasi komparatif pada tiga objek studi di Surabaya Barat tahun 2025: 1. Tower 08: 52 lantai (Tinggi 162,5 m). 2. Tower 10: 48 lantai (Tinggi 166,35 m). 3. Gedung Parkir (MSCP): 9 lantai (Tinggi 22,5 m). Tiga model konfigurasi dianalisis: 1. Model 1: Metode Heuristik/Konvensional (Pola potong 8m-4m dari stok 12m). 2. Model 2: Cut to Length (CTL) dengan Lap Splice. 3. Model 3: Cut to Length (CTL) dengan Mechanical Coupler. Variabel yang diukur meliputi berat material terpakai, kuantitas waste, emisi CO₂ (menggunakan faktor emisi 1,46 kg CO₂e/kg), waktu siklus penyelesaian, dan total biaya (Life Cycle Cost). 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Efisiensi Material dan Pengendalian Limbah (Waste) 1. Model 1: Menunjukkan inefisiensi tinggi dengan waste mencapai 12,33% pada Tower 8 dan puncaknya 27,24% pada Tower 10. Hal ini membuktikan stok 12m sangat rentan terhadap inkompatibilitas geometri bangunan. 2. Model 2: Berhasil menekan waste hingga 2,96% - 4,07% pada bangunan tinggi. Namun, pada gedung rendah (MSCP), efisiensinya menurun dengan waste 9,83% karena keterbatasan opsi kombinasi panjang. 3. Model 3: Memberikan efisiensi material tertinggi. Pada Tower 10, waste ditekan hingga 0,40%. Namun, pada MSCP, waste melonjak menjadi 10,14% akibat persyaratan teknis pemotongan ujung paling bawah dan paling atas kolom yang menyisakan potongan besar yang tidak dapat diserap oleh tinggi bangunan rendah. 3.2 Analisis Biaya dan Waktu 1. Kelayakan Ekonomi: Model 2 secara konsisten menjadi opsi dengan biaya terendah di semua kasus. Sebagai contoh, pada Tower 10, Model 2 lebih murah Rp 1,1 Miliar dibandingkan Model 1. Model 3 selalu lebih mahal dari Model 2 karena biaya investasi komponen dan instalasi coupler melampaui nilai penghematan materialnya. 2. Produktivitas Waktu: Model 2 adalah yang tercepat (268 hari pada Tower 8). Model 3 membutuhkan waktu lebih lama (318 hari pada Tower 8) karena instalasi coupler memerlukan presisi tinggi dan kontrol kualitas yang lebih ketat. 3.3 Dampak Lingkungan (Emisi CO₂) Model 3 secara konsisten menghasilkan emisi CO₂ terendah karena eliminasi panjang lewatan dan minimnya wastematerial. Pada Tower 10, Model 3 menghemat 287 Ton CO₂ dibandingkan Model 1. 4. KESIMPULAN 1. Model 2 (CTL + Lap Splice) adalah solusi paling layak secara komersial (commercially viable) karena stabilitas penghematan biaya dan durasi tercepat di seluruh tipe bangunan. 2. Model 3 (CTL + Mechanical Coupler) merupakan solusi untuk bangunan tinggi (high-rise building) yang memprioritaskan prinsip Green Building dan optimasi struktur, namun tidak efisien untuk bangunan rendah. 3. Model 1 (Heuristik) tidak direkomendasikan karena pemborosan material ekstrem (hingga 27%) yang merugikan secara finansial dan lingkungan. Saran Ke Depan: Perlu dilakukan analisis sensitivitas harga untuk menentukan break-even point kapan penggunaan coupler menjadi lebih ekonomis dibanding lap splice