Lonjakan harga emas yang terjadi sepanjang 2025 hingga awal 2026 dinilai bukan sekadar fenomena pasar biasa. Dosen School of Business and Management (SBM) Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Dr. Dra. Nanik Linawati, MM., menyebut emas kini telah bertransformasi menjadi “benteng terakhir” bagi investor di tengah runtuhnya kepercayaan terhadap sistem ekonomi global. Penyebab dari fenomena ini sendiri sangatlah kompleks. Mulai dari eskalasi konflik di berbagai kawasan, kebijakan tarif tinggi dari pemimpin dunia, hingga retorika politik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump turut berperan dalam menciptakan iklim investasi yang “liar” saat ini. Menanggapi kondisi tersebut, Dr. Nanik menjelaskan bahwa pergerakan harga emas harus dilihat dari dua perspektif, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, menurutnya, penurunan harga emas merupakan hal yang wajar. Meroketnya harga emas justru merupakan “sinyal merah” bagi perekonomian global.Ia menilai kenaikan ini bukan lagi dipicu oleh permintaan perhiasan, melainkan oleh krisis kepercayaan investor yang mulai meninggalkan aset produktif seperti saham, kripto, dan deposito, demi menyelamatkan nilai kekayaan mereka.