Rumah duka di Surabaya umumnya memiliki keterkaitan erat dengan budaya Tionghoa yang kaya akan rangkaian prosesi kematian. Tradisi ini tidak hanya berlangsung dalam satu hari, melainkan melewati tahapan-tahapan penting seperti Jiebok, Maisong, dan Sancong yang penuh nilai simbolik dan makna spiritual. Namun, hingga saat ini belum terdapat rumah duka di Surabaya yang secara khusus mewadahi seluruh rangkaian ritual tersebut dengan tata ruang yang sesuai secara budaya. Hal ini menjadi dasar perancangan tugas akhir yang bertujuan menciptakan rumah duka budaya Tionghoa dengan pendekatan simbolik. Pendekatan ini digunakan untuk menghadirkan arsitektur yang tidak hanya fungsional, tetapi juga menjadi medium pemaknaan terhadap perpisahan dan transendensi. Metode perancangan meliputi kajian pustaka mengenai simbolisme dalam budaya Tionghoa, studi preseden rumah duka dan krematorium, wawancara dengan keluarga Tionghoa yang pernah menjalani proses berduka, serta observasi terhadap rumah duka yang ada di Surabaya. Hasil perancangan diwujudkan melalui susunan ruang simbolik yang terbagi menjadi empat tahap: rumah duka sebagai dunia fana, koridor transisi sebagai jalur penghantaran spiritual, krematorium sebagai tempat pelepasan jiwa, dan kolumbarium berbentuk gunung sebagai simbol tempat leluhur bersemayam. Narasi arsitektural ini dirancang untuk membimbing keluarga dalam perjalanan perpisahan yang utuh, khusyuk, dan bermakna. Arsitektur menjadi sarana untuk tidak hanya melepas kepergian, tetapi juga untuk menghayati dan memuliakan proses menuju keabadian.