"Suroboyo kok garing, yo?". Keluhan itulah yang mengusik pikiran Obed Bima Wicandra pada 2004. Sebagai seorang lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Obed merasa kering saat hijrah ke Surabaya. Kering yang dia maksud adalah kurangnya sentuhan seni. Keluh kesah itu beberapa kali dia lontarkan kepada rekan dosennya di UK Petra. Salah satunya kepada Budi Prasetyadi. Sembari dia terus mencari cara membuat kota tempatnya merantau itu tak lagi kering. "Oh, gimana kalau mural aja", cetusnya. Kala itu, mural belum dikenal di Surabaya. Padahal Jogjakarta sudah mengawalinya. Dari sana, Obed bertekad untuk membawa mural ke Kota Pahlawan.