Empat orang ditemukan tewas terbunuh secara sadis di Holcomb, Kansas. Mereka adalah petani kaya Herb Clutter, istrinya Bonnie, dan kedua anak remaja mereka Nancy dan Kenyon. Tiga nama terakhir tewas ditembak di kepala. Herb Clutter, sang Ayah, menjadi korban yang tampak paling menderita: terbaring beralaskan kardus di basement, dengan leher nyaris putus! Mereka menjadi korban kejahatan hanya demi uang tak lebih dari 42 dolar.
Ini adalah kejahatan yang tak masuk akal. Satu nyawa setara dengan sepuluh setengah dolar. Enam minggu kemudian, sang pembunuh, Perry Smith dan Richard "Dick" Hickock tertangkap. Duo residivis ini ternyata punya plot berbeda-beda dalam benaknya, ketika mendatangi rumah korban. Motif di balik pembunuhan inilah yang membuat In Cold Blood menjadi sangat kompleks dan menarik untuk diikuti lembar demi lembar. Novel ini secara detail menceritakan kehidupan korban dan para pembunuhnya yang ditulis dengan sentuhan emosional yang subtil, tapi mendalam, hingga membuat pembaca bertanya-tanya: siapa sesungguhnya korban- korban dalam kejadian ini?
Dibutuhkan waktu enam tahun bagi Capote untuk menulis, sebelum akhirnya In Cold Blood terbit. Novel yang terpilih sebagai salah satu buku terbaik sepanjang masa (Modern Library, April 1996) ini, disebut-sebut sebagai a brilliant insight of criminal mind, sebuah kajian lengkap dan emosional mengenai benak para penjahat. Tak berlebihan kalau In Cold Blood menginspirasi banyak film. Sejumlah miniseri diproduksi di layar kaca untuk mengangkat petualangan pasangan kriminal ini dalam membantai korbannya. Dua film terakhir yang berpusat pada sosok Capote adalah Capote (2005) dan Infamous (2006)-dan di film Capote, Philip Seymour Hoffman meraih Piala Oscar 2005 untuk gelarĀ aktorĀ terbaik.