Saat Jimmy Nurdi Kusuma Priatman mulai kuliah Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Kristen Petra Surabaya pada tahun 1972, Dunia tengah dilanda krisis energi. Meski saat itu Indonesia belum mengalaminya, ia yakin suatu saat bencana itu akan datang juga ke negara di khatulistiwa ini. Keyakinan itu masih ditambah lagi dengan tren perancangan gedung bertingkat di Indonesia yang lebih sering menerapkan konsep Arsitektur Barat yang beriklim dingin. Padahal gedung-gedung itu berada di negara tropis. Kenyataan itu menantang Jimmy untuk mendalami dan menerapkan arsitektur berkonsep penghematan energi. Arsitek menentukan seperti apa bangunan akan dibuat. Dengan posisi itu, arsitek berperan penting dalam penghematan energi suatu bangunan, ujar Jimmy.