Fasilitas pengembangan kebudayaan Tionghoa di Surabaya
Keberadaan masyarakat Tionghoa telah menjadi bagian penting dalam perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi Kota Surabaya. Kebijakan asimilasi pada masa Orde Baru menyebabkan ekspresi budaya Tionghoa terbatas pada ranah privat, sehingga muncullah kesenjangan memori budaya yang masih terasa hingga saat ini. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan akan fasilitas yang mampu mendukung pelestarian, pengembangan, dan pengenalan budaya Tionghoa kepada masyarakat secara inklusif. Perancangan Fasilitas Pengembangan Kebudayaan Tionghoa di Surabaya bertujuan menghadirkan wadah edukasi, aktivitas seni, literasi budaya, eksibisi, dan interaksi sosial yang memperkenalkan budaya Tionghoa sebagai bagian dari kebudayaan Nusantara sekaligus memperkuat identitas multikultural Kota Surabaya. Metode perancangan menggunakan pendekatan simbolik dengan menerjemahkan perjalananan budaya masyarakat Tionghoa mulai dari akar budaya, diaspora, pembentukan komunitas, hingga proses akulturasi ke dalam tatanan ruang, bentuk, dan sirkulasi bangunan. Pendekatan tersebut didukung teori Critical Regionalism Kenneth Frampton untuk menghasilkan arsitektur yang kontekstual terhadap Kota Surabaya. Konsep 围合 (Wéi Hé) diterapkan sebagai landasan perancangan melalui susunan massa yang saling terhubung dan mengelilingi ruang komunal, sehingga mendorong interaksi dan pertukaran budaya secara alami.