Busana gaun malam telah menjadi salah satu komponen penting dalam sebuah acara atau kegiatan. Tingginya permintaan pasar perempuan Surabaya terhadap produk gaun malam dikarenakan adanya keinginan perempuan Surabaya untuk tampil berbeda dari orang lain yang disebabkan oleh gaya hidup dan pola pikir mereka yang menganggap bahwa busana merupakan cara mengekspresikan diri dan menunjukkan status sosial. Ini membuat industri fashion terus memproduksi busana yang memiliki desain atau tampilan baru. Perilaku semacam itu merupakan perilaku konsumtif dan berbiaya tinggi. Oleh sebab itu, agar perempuan Surabaya memiliki kesempatan tampilan busana pesta yang beragam dengan biaya yang relatif lebih rendah, maka diperlukan adanya alternatif berbusana berupa konsep busana modular fashion. Busana modular adalah busana yang memiliki beberapa bagian yang dapat dilepas pasang sehingga dapat mudah disesuaikan pada berbagai busana yang telah ada dan dapat menghasilkan berbagai tampilan dalam satu busana. Konsep ini juga mendukung prinsip sustainable design atau busana yang berkelanjutan. Busana yang memiliki suatu tema spesifik akan lebih menarik pasar. Bunga Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata) diangkat menjadi sumber inspirasi karena merupakan flora endemik serta ikon dari asal daerah penulis, yaitu dari provinsi Kalimantan Timur dengan tujuan mengapresiasi dan mengedukasi pasar akan kekayaan alam daerah asal penulis yang unik dan mulai langka. Perancangan ini menggunakan metode pengumpulan data kualitatif dan metode design thinking yang terdiri dari emphatize, define, ideate, prototype, dan test. Hasil akhir perancangan ini adalah koleksi busana modular dan aksesori pada gaun malam yang terinspirasi dari Bunga Anggrek Hitam Kalimantan Timur.